Pages

Kamis, 30 Januari 2014

Jingga dan Senja



Judul : Jingga dan Senja
Pengarang : Esti Kinasih
Tahun terbit : 2010
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Hal :312 halaman
Kategori : Fiksi, Novel, Romantic
Ukuran : 13.5 cm x 20 cm

Sinopsis:
Kemiripan dua buah nama ternyata bisa dijadikan sebagai  alasan yang kuat untuk bersama. Bukan merupakan nama biasa yang pada umumnya dapat ditemui di pasaran. Akan tetapi, lebih mengacu kepada suatu identitas unik dan bersifat fenomenal. Tidak dapat dikatakan “kuno” atau “berlebihan”, namun itulah kenyataannya. Walaupun memiliki perbedaan huruf yang signifikan, tetapi makna katanya tetap sama. Memusat pada satu titik terpenting dalam jagat raya. Dua panggilan inilah yang digunakan Esti Kinasih dalam novelnya yang berjudul Jingga dan Senja.
Dalam novel ini diceritakan tentang kehidupan anak remaja yang dibumbui dengan romansa cinta serta hal lainnya, seperti persahabatan hingga pada aksi tawuran sekolah. Berlatar di sebuah sekolah menengah tingkat atas Jakarta dengan segala hal yang berbau kehidupan ABG sekarang, membuat semua siswa-siswinya mengikuti trend yang berkembang di masa sekarang. Termasuk aksi jagoan para siswa SMA Airlangga yang “rela mati demi mempertahankan negara”, begitu semboyan mereka. Pertemuan dua insan dengan nama yang tidak jauh beda di “medan tempur”, menjadi hidangan awal timbulnya konflik baru.
Suasana inilah yang menjadikan karya perempuan berzodiak Virgo tersebut menciptakan kegemparan yang luar biasa di jejaring sosial maupun forum-forum diskusi dunia maya. Ditambah lagi aksi nekatnya membuat para pembaca ingin marah, gelisah, dan tak karuan. Resentator yang juga merangkap sebagai teenlit lovers dengan tidak sungkan mencap bahwa karya Esti Kinasih kelima ini merupakan karya yang belakangan mengguncang animo dunia pembaca cerita fiksi dan teenlit lovers, khususnya kaum hawa.
 diambil dari : zayna sh

Jingga untuk Matahari


Judul : Jingga dan Senja
Pengarang : Esti Kinasih
Tahun terbit : 2010
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kategori : Fiksi, Novel, Romantic

Sinopsis:
Tari menatap jalanan lurus dihadapannya dengan rasa bingung da sedikit takut. Ia tidak mengerti apa maksud Ata berkata demikian padanya. Sosok Ata kini sudah tidak tampak lagi Hening tercipta ditengah rasa kalut Tari yang menguasai dirinya.
            “Tar, lo kenapa? Lo ngelamun ya?” sebuah suara mengagetkan Tari. Ia serta merta menoleh ke belakang dan mendapati sosok Ari yang duduk manis di atas motor hitamnya dengan raut wajah penasaran. Ya, itu sudah pasti Ari, bukan Ata.
            “Apa? Eh..eng..enggak kok, kak! Saya nggak kenapa-napa.” Jawab Tari terbata seperti orang kikuk. Awalnya dia ingin memberitahu Ari tentang ancaman aneh Ata. Namun niat itu segera diurungkan Tari. Ia tidak mau merusak hubungan dua saudara kembar yang baru dipertemukan lagi setelah sekian tahun terpisah itu. Lagipula Tari yakin, pasti ada alasan  mengapa Ata melakukan hal demikian. Ata yang tadi dilihatnya sangat berbeda dengan sosok Ata yang ramah dan murah senyum sewaktu bertemu di bandara. Tari jelas sama sekali belum mengetahui bagaimana Ata. Apakah itu pribadi Ata yang sebenernya? Mengapa sangat berbeda dengan ‘Sifat Ata’ yang selama ini dipakai Ari saat melakukan sandiwara di depan Tari?
            “Tar, Kok bengong lagi sih? Lo sakit ?” Suara Ari lagi-lagi menyentakkan lamunan Tari. Tari baru sepenuhnya sadar bahwa Ari ada di depan rumahnya pagi ini.
            “ Oh ya, Kak Ari ngapain pagi-pagi gini udah ada di depan rumah saya?”
            “ Ya gue mau jemput lo ke sekolah lah, eh lo nya dari tadi bengong gak jelas. Udah lah cepet naik ! ini udah mau jam setengah tujuh, nanti telat lagi. Kalo gue mah gak apa, udah blacklist. Tapi kalo lo yang telat bisa repot urusannya.” Jawab Ari panjang lebar.
            Tari melirik arloji barunya yang berwarna oranye. “ya ampun bener juga. Yuk cepetan kalo gitu” Tari berujar panik lalu segera menaikki boncengan motor Ari. Tak lama, motor hitam itu sudah melesat cepat melawan deru angin di jalanan kompleks yang belum terlalu ramai. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedari tadi terus mengawasi mereka.
            “ Maaf, tar. Harusnya memang lo gak terlibat. Tapi gue gak bisa apa-apa. Lo sendiri udah milih untuuk masuk dalam lingkaran semu yang bahkan gak lo mengerti. Gue gak tau entah sejak kapan, tapi sepertinya lo udah jadi seseorang yang begitu penting buat saudara kembar gue.” Batin Ata sambil menghela nafas dengan raut wajah lelah.
***
            Motor Ari memasuki area sekolah. Pagi itu, SMA Airlangga sudah ramai oleh murid-muridnya. Ari memarkirkan motornya persis di sebelah motor milik Oji. Tak jauh dari Ari dan Tari, Oji yang saat itu sedang bersama dengan Eki langsung menghampiri Ari dengan heboh.
            “Wah.. Wah.. Pengantin baru udah akur lagi nih kayaknya”
            “ Iya nih Ji. Dua matahari yang sedang dimabuk asmara.” Sambung Eki dengan kata-kata noraknya. Tari yang kesal dengan candaan dua kakak kelasnya itu menunduk malu sambil mengutuk-ngutuki Oji dan Eki dalam hati.
            “ Lo tuh yang mabok!” Jawab Ari sambil menoyor kepala Oji dan Eki bergantian. Namun disertai tawa pelan.
            “ Eh, ki. Si bos sok-sokan gak mau ngaku, tapi mukanya sumringah gitu. HahaHaha... Liat aja deh pagi ini. Ari rapi kinclong gitu, pakai seragam lengkap lagi ke sekolah. Kan gak biasanya tuh!” seru Oji.
            “Emang kemarin-kemarin Ari ke sekolah gak pakai baju gitu? Wah.. parah lo Ri. Pantes cewek satu sekolah semua ngejar lo.” Kata Eki dengan goblok yang dibuat-buat.
            Oji yang gemas langsung melayangkan tinju ke arah Eki. “yee... begok!! Maksud gue selama ini kan Ari itu suka se enak jidatnya. Kadang pakai seragam, kadang pakai oblong, kadang Cuma pakai singlet doang, malah pernah dengan pede-nya mengsinkronkan antara seragam sekolah dan celana jeans. Bukan sama sekali gak pakai baju ke sekolah OON!!” kata Oji dengan gaya sok mengajari.
            Ari yang menjadi ‘objek dan topik’ utama pembicaraan malah tertawa keras hingga bahunya terguncang pelan. Sedang tari yang berdiri di sampingnya tetap diam, sambil tak sabar untuk menuju kelasnya.
            “ Udah.. Udah. Tari mau masuk kelas. Jangan digodain mulu ah.” Kata Ari smbil memegang pergelangan tangan Tari dan menariknya lembut. “ Lo berdua bawain tas gue ke kelas!” kata Ari dengan gaya nge-bossy lalu meninggalkan Oji dan Eki, setelah melempar tasnya yang dengan sukses menghantam dada Eki.
            “ Yee... gak asik lu bos! Cepet banget sih selesainya!” Oji pura-pura protes karena komedi singkatnya di pagi hari harus berakhir.
            “iya nih, mana gue ditimpuk tas.” Sahut Eki meringis pasrah. Tapi ari tidak perduli. Ia terus saja berjalan meninggalkan Oji dan Eki yang masih melanjutkan aksi ‘ sok protesnya’ yang tidak penting. Ari memegang tangan Tari yang dari tadi hanya pasrah oleh ocehan Eki dan Oji.
            Sesampainya di mulut tangga menuju kelas Tari, Ari melepas genggaman tangannya. Ia berbalik menghadap Tari dan tersenyum tipis. “ Lo gue antar sampai sini gak apa kan? Bel masih 10 menit lagi. Lo gak akan telat masuk kelas kok. Jadi, gue gak perlu bersilahturahmi dulu sama guru yang masuk di kelas Lo. Bisa?”
            “ Iya kak, gak apa kok, makasih ya udah jemput saya tadi. Saya bisa sendiri kok” jawab tari lega karena tidak harus menerima tatapan tanya dan penasaran dari orang-orang satu kelas lagi. Bukan apa-apa setiap ari muncul di samping tari, semua hal pasti akan menjadi objek pembicaraan seru bagi anak-anak.
            “ Oke kalo gitu” jawab ari sambil menepuk pelan pundak Tari. Ari pun berlalu menuju ke arah kelasnya sendiri.
***
            Sementara itu, di sekolah yang berbeda seorang cowok sedang duduk merenung dalam diam. Sambil memegang handphone yang sedari tadi hanya ia pandangi tanpa digunakan, pikirannya jauh melayang ke SMA lain yang berkilo meter dari tempatnya saat ini. Sosok seorang cewek dari tadi terus saja menari di benaknya. Cewek dengan senyum ceria yang terkadang menangis ketakutan di hadapannya. Cewek yang pada awalnya hanya menjadi objek penting untuk balas dendamnya. Ia mendengus kesal sambil memaki diri sendiri dalam hati. Kenapa ia menjadi lupa pada misi awalnya dan membawa perasaan ikut campur dalam misi itu.
            “ tenang aja tar, gak akan lama lagi gue akan kembali muncul di hadapan lo. Gue akan kembali menjalankan tugas yang sempat gue tinggalin. Tugas sebagai ‘pelindung’ lo dari si brengsek Ari!”
***
            Bel isitirahat SMA airlangga berbunyi panjang. Murid-murid menarik nafas lega karena akhirnya bisa juga melepas penat dari tiap mata pelajaran yang membosankan.
            Diruang kelas 10-9, murid-muridnya sudah tidak sabar untuk berpindah ke area kantin atau sekedar ngantri di toilet sekolah. Tari sendiri masih sibuk dengan buku catatannya.
            “ Fi, bentar ya. Gue nyatat yang di papan tulis dulu. Tanggung nih!” kata tari kepada teman sebangkunya itu.
            “iya iya gue tungguin tapi cepetan ya tar!” jawab fio sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
            Tari kemudian sibuk memindahkan salinan di papan tulis ke buku catatan, tari memang agak lambat dalam hal menulis. Jadi terkadang dia harus rela mengorbankan jam istirahat untuk melanjutkan catatan yang belum selesai, atau malah meminjam buku catatan temannya. Tak lama kemudian tari yang telah selesai mencatat mendesah lega. Ia meregangkan tangannya yang sedikit pegal lalu menutup buku catatan. Diraihnya pergelangan tangan Fio yang masih duduk menunggu di sampingnya. Tanpa menoleh tari bangkit berdiri dari kursi dan menarik tangan fio.
            “Yuk gue udah selesai! Laper banget nih. Entar kantin penuh kita gak dapat tempat lagi.” Kata tari. Fio yang di ajak berbicara malah diam aja, dan tidak beranjak dari tempatnya. Tari yang sudah sangat lapar menjadi sedikit kesal ‘Fio apa-apa an sih?, dia yang ajak dia yang lama!’ batin tari dalam hati. Tapi tunggu dulu, kenapa serasa ada yang beda? Kok tangan Fio ..... ?? tari yang merasa janggal langsung balik badan dan ......
            “ Ka Ari? Kok ?” tari kebingungan melihat sosok ari yang sudah duduk tenang di bangku Fio entah sejak kapan. Si empunya bangku sendiri malah sedang berdiri pasrah sambil angkat bahu saat di pelototin tari.
            “ jadi lo laper? Ya udah yuk ke kantin bareng gue!” jawab ari santai.
            Tari yang sadar bahwa ia masih memegang tangan ari, langsung kelimpungan dan langsung melepas genggamannya. “ ma ... maaaf ka, saya gak....” belum sempat tari berbicara ari sudah kembali menyambar tangannya. “ loh, tadi lo yang ngajakin? Orang yang udah buat janji ama gue tidak di perkenankan untuk ngebatalin begitu aja, ayo!”
            Muka tari yang sudah se-merah kepiting rebus hanya bisa pasrah saat ditarik asri keluar kelas, fio yang menyaksikan semuanya hanya bisa menatap ‘ meminta maaf’, sambil berusaha mati-matian menahan tawanya. Bukan apa-apa, sikap tari tadi memang kocak banget. Apalagi hal itu, dia lakuin ke ari yang notabene adalah pasangan berantemnya di sekolah. Beberapa murid yang tadi masih tetap di kelas juga menyaksikan semuanya dengan tatapan lucu dan senyum geli.

diambil dari : Vivi Novianti

Jingga dalam Elegi


Judul : Jingga dalam Elegi
Pengarang : Esti Kinasih
Tahun terbit : 2010
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kategori : Fiksi, Novel, Romantic

Tebal :    392 hlm ; 20 cm

Sinopsis :
Sejak peristiwa pagi hari saat melihat mata Tari bengkak, Ari jadi penasaran. Benarkah itu hanya karena Ari menghapus nomor HP Ata dari HP Tari, ataukah karena Angga? Kalau memang karena Angga yang notabene musuh bebuyutan Ari, Ari ingin tahu apa yang telah dilakukan cowok itu terhadap Tari. 
Setelah menemukan a shoulder to cry on pengganti Angga dalam diri Ata, perlahan-lahan Tari mulai melupakan Angga. Sikap Ata yang bertolak belakang dengan Ari membuat Tari nyaman bersama Ata. Ia pun curhat habis-habisan kepada Ata yang lembut, penuh perhatian, baik hati, dan yang baru belakangan Tari sadari berhasil membuat jantungnya berdebar tak keruan. Gangguan dan intimidasi Ari sampai tidak diacuhkannya. Inilah yang membuat Ari makin salah tingkah-kini saingannya bukanlah Angga, melainkan saudara kembarnya sendiri.
Namun, saat Tari merasa telah menemukan pelabuhan hatinya, satu rahasia besar perlahan-lahan terkuak.
Tari merasa… lambat laun Ata semakin mirip Ari….
 
Review :
Kini Ari semakin mati-matian ngerjain Tari. Bener-bener ngerjain. Bahkan pake cicak segala trus si Tari pingsan. Hew, cara yang aneh buat pedekate. Tapi ya, sepertiga awal aku baca buku ini, aku ngerasa kemunculan Ata tu lebih dominan daripada Ari. Ata sering ke Jakarta buat ketemuan ma Tari. Bahkan sekarang Ata lebih berani buat ngajak Tari ngedate walaupun beberapa kali harus mengusir Fio dengan halus biar Ata bisa pergi berdua aja sama Tari. Yang lucu, Ata jadi sering nyuap Fio pake entah itu roti keju buatan hotel, atau bahkan sekarung film Korea biar Fio nggak jadi pergi sama Tari. Ckck..
Oia, diceritakan kalo Ata udah tahu rumah Ari, dan ia ngajak Tari buat liat sekilas. Maksudku ‘sekilas’ emang bener-bener sekilas. Soalnya Ata selalu memacu mobilnya kenceng kalo lewat depan rumah Ari, jadi Tari harus pasang mata baek-baek kalo mau liat. Tapi rupanya Tari jatuh cinta berat sama rumah mewah Ari. Kenapa? Soalnya rumahnya serba matahari.. Bahkan ada dua patung Helios ―dewa matahari Yunani Kuno― di gerbang rumah Ari. Tari bahkan berulang kali meminta Ata buat lewat depan rumah Ari hanya untuk mendapatkan lebih detail rumah Ari yang ada di dalam sebuah perumahan elit itu. Wah, ampuun.. Sampai suatu kali hampir aja mereka kepergok karena waktu lewat, motor Ari nangkring di carport rumah itu, dan pintu depan rumah terbuka sedikit. Untuk mengetahui apakah Ari tahu mengenai Tari yang sudah mengetahui ―halah― rumah Ari, Tari mengintai gelagat Ari di sekolah. Apakah ada perubahan. Secara, selain Ari punya saudara kembar, fakta keberadaan rumah Ari yang misterius itu merupakan rahasia besar Ari yang kedua. Jadi pasti tamat riwayat Tari kalau Ari sampai tahu cewek itu tahu mengenai rumahnya. Tapi setelah beberapa hari mengintai dan dikerjain, Tari dan Fio sepakat kalau Ari tidak tahu mengenai ini.
Nah inget kan, kalo di review ku mengenai buku Jingga dan Senja, aku curiga kalo Ata sama Ari itu sebenernya satu orang yang sedang memainkan peran besar..? Dari awal aku baca buku ini aku selalu berpegangan sama keyakinan itu, jadi aku selalu menghubung-hubungkan kalo Ata lagi muncul sementara Ari nggak ada. Tapiii, suer, ada saat keyakinanku itu goyah. Soalnya waktu Ata ma Ari lagi ngedate trus ada SMS dari Ari yang bilangnya ngelihat mereka berdua, dan nada SMSnya itu marah banget, aku masih mikir, “ah, ini masih bisa akal-akalan Ari aja. Dia punya cara buat pura-pura nelpon dan SMS Tari disaat cewek itu ada di sebelah Ata.”. Tapi kemudian aku jadi semakin semangat baca karena tiba-tiba ada ‘Ari’ yang menghadang mobil mereka di jalan. Bahkan Ari merusak dan memecahkan spion mobil Ata sementara Ata dan Tari ada di dalam mobil. Tapi sayangnyaa, cowok yang mengendarai motor hitamnya Ari itu pake jaket dan helm, jadi nggak keliatan bener-bener Ari bukan di dalamnya. “Hahh.. kalo gini bisa jadi Ari nyuruh Oji atau siapa kek buat ngebantuin dia pura-pura jadi ‘Ari’”, pikirku kemudian.
Pasca insiden itu, Tari merasa aneh karena selama empat hari kedepan Ari nggak ngegangguin dia. Trus nanti ada saat dimana Ari merenungkan tentang perbuatannya dan ia merasa menyesal tapi memutuskan bahwa ia tidak bisa mundur lagi dari ‘cara ini’. Naaah.. Inilah yang kembali meyakinkanku bahwa Ata itu ya Ari! Ampuunn..
Tapi ternyata setelah empat hari inilah masa tenang itu berlalu. Ari kembali menghantui Tari. Tapi sayangnya kali ini dengan pengakuan-pengakuan yang membuat Tari marah dan bingung. Dengan santainya Ari mengatakan bahwa Ata itu nggak jauh beda sama Ari. Ata itu perokok berat, tukang berantem ―lebih parah dari Ari, trus Ata itu raja trek-trekan, tukang mbolos, dan yang lebih parah jago minum alkohol. Jelas aja Tari marah dan menuduh Ari telah memfitnah Ata. Saat Tari dengan kemarahannya pergi meninggalkan Ari, Ari dengan sigap mengejar, menarik, dan memeluk Tari. Hanya sekejap. Tapi berefek besar. Tari membeku di tempat dan mencerna kalimat yang di bisikkan Ari bahkan hingga cowok itu berlalu.  “Gue pingin banget meluk elo. Udah nggak inget lagi sejak kapan gue harus mati-matian nahan diri.”. Weeeew….
Beberapa hari kemudian, karena Tari tidak menjawab telepon dan SMS-SMS Ata, Ata nekat nemuin Tari dengan mencari anak itu di setiap bus yang biasa Tari tumpangi. Di bus kesembilan akhirnya Tari ketemu. Mereka pun lalu turun dan kembali ke mobil Ata, lalu pergi ke sebuah taman kota dimana Ata kemudian bercerita panjang lebar. Ata mengakui bahwa semua yang Ari bilang mengenai kebiasaannya itu benar. Ata juga curhat mengenai keluarganya. Diluar dugaan, ternyata Tari menerima semua ini dengan tenang. Mereka pun lalu jalan-jalan setelah perasaan lega melingkupi Ata. Mereka menemukan deretan kios-kios barang bekas dimana nanti Tari menemukan sebuah mesin jahit kuno yang mirip dengan yang mamanya punya dan ia berceloteh menceritakan perihal mesin jahit pemberian neneknya itu dan tentang serunya kalau sedang mengunjungi neneknya di desa. Tanpa Tari sadari, ternyata Ata sedang syok berat karena ia melihat sebuah benda, entah apa, yang membangkitkan memorinya. Bahkan Ata sampai pucat layaknya mayat dan harus bersandar ke tiang lampu untuk menopangnya. Tari cemas setengah mati melihat tingkah Ata yang aneh ini. Apalagi Ata langsung menarik Tari kembali ke mobil dengan ketergesaan dan mengantarnya pulang. Namun rupanya Ata tidak mengantarnya sampai rumah karena cowok itu menghentikan sebuh taksi buat Tari namun tidak seperti kebiasaan, Ata langsung kembali ke mobil tanpa mengucapkan pamitan atau apa. Tari yang cemas dan bingung langsung meminta pak sopir buat ngikutin mobil Ata yang tadi langsung berputar balik. Tari tahu kemana Ata pergi. Benar saja, Ata kembali ke pasar barang bekas tadi dan kembali berdiri di depan kios yang membuatnya terus membeku, bahkan hanya berdiri dengan mata terpaku hingga lewat waktu kios itu tutup, pukul lima sore. Tari yang mengamati tingkah Ata dari kejauhan semakin cemas saat melihat cowok itu malah mundur dan bersandar pada tiang lampu tadi dan lalu terduduk lemas dengan kaki tertekuk namun tetap menatap kios. Bahkan SMS Tari kirim yang ringtone-nya jelas-jelas keras tidak menyadarkan Ata dari lamunan. Ada apakah ini??
Ternyata mesin jahit itulah masalahnya! Hari berikutnya, Ari yang mati-matian ingin mendapatkan mesin jahit itu. Bahkan ia rela harus membayar tiga kali lipat untuk mesin jahit kuno ini. Namun sayangnya mesin itu sudah milik orang lain. Dengan lunglai Ari pergi dari kios dan pergi kesekolah untuk melepas frustasinya. Seharian penuh ia membuat masalah. Membuat keonaran. Tari semakin bingung dengan tingkah kedua kembar ini. Bahkan anehnya, Ari juga mendatangi rumah Tari saat Tari disekolah hanya untuk melihat ibu tari menjahit dan keadaan ini serta merta menarik Ari sendiri kedalam kenangan masa kecilnya.
Sumpah. Esti Kinasih ini bikin aku bingung setengah mati. Terlalu banyak tanda tanya yang ia buat. Walaupun aku hampir yakin sepenuhnya bahwa Ari dan Ata itu satu orang yang sama, kini Esti Kinasih kembali memberikan misteri dan membuatku berspekulasi, mungkinkah kalau ternyata Ari DAN Tari itu satu ibu???? Gilak.. Bikin bingung abis. Tapi kalau satu ibu, kenapa Ibu Tari nggak sadar kalau Ari itu anaknya? Kalau emang satu ibu lho yaa.. Tapi ya ampun. Hal ini masih tetap dijadikan misteri sampai hampir akhir cerita. Yang bikin aku terperangah, ada satu paragraf yang membuatku tercengang dan membuatku berulang kali membacanya untuk mengerti apa maksud kalimat itu. “… Hanya ada lingkaran dekapan kuat kedua lengan Ari pada gadis yang menyandang nama yang sama dengan dirinya dan seseorang yang pernah berbagi rahim sang mama dengannya…” Alamak.. Ambigu nyaa.. Tapi ternyata aku salah terka.. hha.. harap maklum, kan cuma main tebak jalan cerita, aku =p
Ata mulai menghilang. Ponselnya tidak pernah aktif. Kini sikap Ari berubah, ia menjadi pribadi Ata dan semakin menunjukkan cinta kasihnya pada Tari. Hanya Tari yang terus dibuat bingung dengan sikap Ari yang aneh ini. Suatu ketika Ari membuat Tari ketakutan dengan berkata bahwa Ata harus mati. Jelas aja Tari mencernanya secara harfiah. Ia dan Fio jadi bingung dan takut. Ari berkata ia akan mengizinkan Ata pamit dengan Tari. Benar saja, dua hari kemudian, sepulang sekolah Ata muncul di halte bis tempat Tari dan Fio menunggu angkutan mereka. Ata dan Tari ngobrol dan Ata meminta bantuan Tari, yaitu nemenin cowok itu datang kerumah Ari buat ketemu langsung dengan tu cowok. Tiga hari kemudian, mereka berdua beneran pergi kerumah Ari, dan apa yang terjadi? Segalanya runyam! Kacau.. Dan apa yang kutebak bener! Sosok Ata itu antara ada dan tiada.. Hew.. Rupanya Ari memang berperan jadi Ata, namun sosok Ata memang nyata. Ari memang punya kembaran, namun ia tidak pernah tahu keberadaannya. Ya ampun.. Aku baca bagian segala kerumitan hidup sosok Ari tu bener-bener kasian.. Dampak perpisahan dan ditinggalkan oleh keluarga, apalagi dua sosok terpenting dalam hidupnya, sang ibu dan sang kembaran =’( dan sekarang Tari pun meninggalkannya. Tari terlalu marah dan kecewa. Wajar sih kalo kubilang.
Tapi ada satu bagian yang aku suka juga. Yaitu bagian dimana akhirnya Ari memberitahukan kenyataan hidupnya pada kedua sohib baiknya, Oji dan Ridho. Kedua sosok ini sangat ―sangat― menyentuh hati. Sangat… keren. Persahabatan yang mereka tawarkan juga sangat ―sangat― manis. Belum lagi saat akhirnya Ari mengungkapkan keberadaan rumah Ari kepada mereka, ya ampun.. aku ngebayangin wajah kagum dan nggak percaya mereka pastilah sangat lucu ^^
Dan akhirnya, teman-teman… Ari mengetahui keberadaan sang Ibu dan Ata! Ya ampuuuun, aku terharu bangeeet! Ata manis banget.. Kini mereka berdua tinggal di Malang, tinggal dengan nenek dan kakeknya, karena Ibunya nggak sanggup menyekolahkan Ata di Jakarta. Bahkan ternyata Ata harus kerja juga. Hhuhuhu.. Gimana nggak trenyuh coba?! Yang satu hidup enak, yang satu hidup susah. Memang udah sering sih tema tentang saudara kembar yang terpisah dimana yang satu hidup senang yang satu hidup susah. Tapi rasanya tetep beda kalau cerita ini tertuang dalam bentuk tulisan. Perasaan sang tokoh tu lebih bisa tersalurkan, lebih tergambarkan. Hadoh, aku paling ―paling― suka sama bagian ini deh..
 
diambil dari : Dana Riska

Minggu, 26 Januari 2014

D' Angel Princess


JudulD`Angel
SeriTeenlit
ISBN / EAN9789792237580 / 9789792237580
AuthorLuna Torashyngu
PublisherGramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish10 Juni 2008
Pages0
Weight199 gram
Dimension (mm)140 x 210
TagAnak dan Remaja


SINOPSIS
      Buku ketiga trilogi D`Angel Fika sakit parah, padahal sebagai Genoid, ketahanan tubuhnya jauh lebih baik daripada manusia normal. Saat mencari pengobatan di Negeri Sakura, Fika malah menemukan teka teki baru yang membawanya kembali ke Indonesia.

    Di Indonesia, Fika diminta bantuannya untuk menjadi pengawal pribadi putri bungsu Presiden. Jadilah Fika kembali masuk SMA sebagai pengawal Gayatri yang lebih akrab dipanggil Gya. Tapi, putri presiden ini ternyata bersifat dingin dan tertutup, juga dijauhi teman-temannya. Gya juga terang-terangan menentang keberadaan Fika, padahal sedang ada ancaman pembunuhan bagi seluruh anggota keluarga Presiden.

     Fika berusaha keras mencairkan sifat Gya yang keras itu, sekaligus menguak teka teki keluarga serta masalah seputar dunia Genoid yang pelik. Masalah Fika makin rumit ketika sakitnya makin parah, dan tiba-tiba muncul Genoid lain yang kemampuannya jauh lebih dahsyat daripada dirinya. Padahal setahu Fika, ia adalah Genoid terakhir yang ada di dunia. Saat harus melawan Genoid baru ini, Fika mau tak mau bertanya-tanya, apakah ini akhir hidupnya?

D' Angel Rose


Judul : D' Angel Rose
Pengarang : Luna Torashyngu

Sinopsis :

       Sebenarnya Fika bertekad melupakan hidupnya yang hancur dan memulai hidup baru yang tenang di Malaysia. Tapi, pihak intelijen Indonesia menemukannya, dan memintanya kembali ke Jakarta untuk membantu misi mencari anak seorang koruptor.

       Fika jadi seolah kembali ke kehidupannya yang lama. Ia masuk SMA tempat anak koruptor itu bersekolah, dan memakai nama Ista. Fika segera terbuai kehidupan remaja yang belum puas dinikmatinya. Ia segera mendapat sahabat-sahabat baru, ikut terlibat dalam pertandingan voli antarkelas, juga pemilihan ketua OSIS.

       Tapi, penyamarannya lalu terbongkar, dan Fika harus kembali kepada kenyataan dan tugasnya. Ia juga harus kembali menghadapi Jenderal Rastaji, orang yang menghancurkan hidupnya. Bukan hanya itu, ternyata Rastaji membawa kejutan besar bagi Fika!

        


Kamis, 16 Januari 2014

D' Angel


Judul Buku : D' Angel
Pengarang : Luna Torashyngu

Sinopsis :

    Memangnya ada cewek yang sempurna? Aturannya kan kalau pintar dalam pelajaran, orang itu bakal bodoh dalam olahraga. Kalau orangnya cantik, tidak mungkin dia jagoan di sekolah. Tapi Fika membuat semua aturan itu jadi basi. Dia cantik, pintar, sekaligus jagoan olahraga. Plus, beruntung pula dalam cinta! Kayaknya nggak mungkin deh ada cewek sesempurna dia.

   Tapi keberuntungan dan kesempurnaannya rupanya tidak berlaku lama. Saat jalan-jalan di mal untuk merayakan jadian pacaran dengan Reza, ada yang menculik Fika! Bukan hanya itu, peristiwa penculikan yang heboh itu juga makan korban jiwa!

Fika terpaksa menurut ikut lari dengan Andika yang menolongnya. Andika kemudian menjelaskan, Fika bisa begitu sempurna serta akan diculik orang karena sebenarnya cewek itu bukan manusia. Fika adalah Genoid, manusia rekayasa yang serbasempurna. Apa-apaan sih? Kayaknya Fika bakal lebih percaya kalau Andika bilang diam-diam Fika punya kakek kaya yang memberi warisan miliaran rupiah deh.

Selasa, 14 Januari 2014

Bukan Salah Bintang Jatuh


Judul Buku : Bukan Salah Bintang Jatuh
Pengarang : Aisha Yuliana
Desain & ilustrasi cover : Dzi Gandara
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juni 2012
Tebal : 224 + x halaman 20 cm

Sinopsis :
            Sahabatku bilang kalau kita melihat bintang jatuh dan mengucapkan permohonan, maka permohonan kita akan terkabul. Saat kebetulan melihat bintang jatuh, aku berniat membuktikannya, dan mengucapkan keinginanku: “Sebuah keluarga untukku...” Dan pada malam sesudahnya, saat bintang jatuh terlihat lagi, aku mengucapkan: “Pacar keren tapi baik hati...”
            Punya mama seorang artis ternyata ngga menjamin Melly hidup bahagia. Terutama ketika mamanya meninggal karena depresi dan overdosis. Karena tinggal sebatang kara, Melly pindah ke Surabaya, ke rumah sahabat mamanya, om Wira. Semula Melly tidak betah tinggal disana, apalagi Rio, anak tiri om Wira, sangat cuek pada Melly. Tapi penampilan luar kadang menipu. Rio sebenarnya menaruh hati pada Melly, sayangnya Melly terlanjur suka pada Josh, cowok idola disekolah. Dan disaat Melly menyadari bahwa Rio cowok yang baik, Rio malah menjauhi Melly. Permohonan Melly untuk punya keluarga baru telah terwujud. Apakah permohonannya untuk punya pacar keren tapi baik hati akan terwujud juga?

Jangan salahkan bintang jatuh bila permohonanmu benar-benar terbukti...

Ringkasan :
Novel ini menceritakan tentang sebuah keinginan akan terwujud dengan memohon pada bintang jatuh. Mungkin sebagian orang ada yang percaya tapi sebagian lagi mungkin tidak mempercayainya. Melly, adalah salah satu cewek yang menganggap bahwa itu adalah mitos. Berbeda dengan sahabatnya yang bernama Citra, Citra percaya pada mitos itu karena ia pernah meminta keinginan pada saat bintang jatuh. Citra adalah sahabat Melly sewaktu SMP dan sekarang mereka bersekolah di SMA yang sama pula. Di SMA, Citra dan Melly bertemu dengan Raya dan Nadya yang kini menjadi sahabatnya juga. Melly mempunyai pacar bernama Doni, yang sudah dipacarinya sejak SMP. Suatu saat Citra mengatakan sesuatu kepada Melly, “Cobalah berpikir tentang keinginan besar yang belum terwujud dalam hidupmu dan yakinilah kamu akan menyadari kebenaran kata-kataku”. Kata-kata itu selalu membayang-bayangi Melly. Saat itu juga Melly mulai berpikir keinginan apa yang belum ia capai selama ini yang tak lain Melly ingin bersama terus dengan Mamahnya. Mamah Melly yang seorang artis terkenal membuat Melly dan mamahnya jarang bertemu dirumah bahkan jarang ngobrol seperti layaknya keluarga yang utuh. Mamahnya selalu tidak punya waktu untuk memperhatikan Melly. Tetapi ada bik Ijah yang selalu menemani Melly ketika di rumah. Melly juga menganggap kalau bi Ijah itu seperti ibu kandungnya bukan pembantu dirumahnya karena bik Ijah selalu menghibur Melly. Suatu ketika dihari minggu, mamah Melly mengajak Melly jalan-jalan. Melly heran karena tak seperti biasanya mamahnya ada waktu untuknya. Setelah seharian shopping, mereka kembali ke rumah.
Tak lama kemudian hubungan Melly dan Doni putus, keduanya sudah sepakat berpisah secara baik-baik. Disuatu malam, Melly sedang berbaring di kamarnya. Dia melihat bintang jatuh dan melintasi jendela kamernya. Saat itu juga Melly terkejut dan ia mencoba untuk meminta permohonan. Keesokan harinya, Melly menceritakan semuanya kepada Citra. Suatu hari, Melly mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk itu menjadi kenyataan setelah Melly mendapat telepon dari om Ferdy yaitu manajer mamahnya bahwa mamahnya sedang kritis dirumah sakit. Saat itu juga Melly memberitahu bik Ijah dan teman-temannya. Sesampainya Melly dirumah sakit, mamahnya sudah meninggal. Melly sangat sedih dan menangis terus-menerus. Tak lama semenjak kepergian mamahnya, ada dept colector dateng ke rumahnya dan menagih hutang-hutang mamahnya selama masih hidup. Saat itu juga Melly tidak punya apa-apa lagi, dia pergi dari rumah mewahnya karena semua barang-barangnya sudah disita. Teman-teman Melly pun ikut membenci Melly kare mereka tahu mamah Melly punya banyak hutang. Akhirnya Melly dipertemukan oleh seseorang  yang menurut om Ferdy adalah papahnya yang bernama om Wira. Ia sekarang tinggal bersama istri dari om Wira dan kedua anaknya di Surabaya. Keluarga om Wira sangat peduli pada Melly. Melly bersekolah di sekolah yang sama dengan anak pertama om Wira yaitu Rio. Rio cuek terhadap Melly. Di sekolah, Melly bertemu dengan Fiona dan Gigi yang sekarang menjadi temannya. Disekolah Melly juga ada cowok yang paling populer, dia bernama Josh. Josh adalah bintang basket yang di gilai banyak cewek. Suatu hari, Josh sedang bermain basket dilapangan sekolah, saat ingin memasukkan bola ke ring, bola itu meleset mengenai Melly yang sedang jalan disekitar lapangan, Melly pun pingsan. Josh langsung membawanya ke UKS. Saat itu juga Josh meminta nomer telepon Melly dengan alasan sewaktu-waktu ingin tahu keadaan kepalanya. Sepertinya Josh mulai tertarik kepada Melly. Ketertarikan Josh pada Melly membuat Fiona bahkan cewek-cewek disekolahnya iri pada Melly yang baru pertama kenal sudah ditaksir oleh Josh. Rio yang sekarang sudah tidak cuek lagi kepada Melly pun sepertinya mulai memperhatikan Melly dan sering menasehati Melly jika Josh mengajak Melly pergi jalan-jalan. Sepertinya Melly mulai teringat lagi akan sosok mamahnya. Dia bermimpi bertemu lagi dengan mamahnya. Dia juga menjual blackberry yang selama ini dipakai untuk berkomunikasi dengan mamahnya. Alasanya karena ia ingin melupakan semua kenangan bersama mamahnya. Rio pun mengantar Melly untuk menjual blackberry nya.
           Ketika sudah berada dirumah, Melly menemukan album foto dan buku hariannya waktu dulu, saat itu juga dia kembali teringat mamahnya. Sambil menangis, dia mengingat semua kenangan pada saat masih bersama mamahnya. Dia juga berpikir kalau dia belum bisa membahagiakan mamahnya. Dia menyesal karena terlalu percaya pada bintang jatuh, yang sama sekali tak membuat harapanhya terwujud. Melly juga berpikir, harapan yang dulu pernah ia minta adalah harapan yang salah diterjemahkan oleh bintang jatuh. Saat itu juga Rio dateng untuk menghibur Melly. Melly melontarkan pertanyaan apakah Rio percaya pada bintang jatuh, tapi nyatanya Rio sama sekali tidak percaya dan menyakini kalau itu Cuma mitos. Om Ferdy menemukan buku harian milik mamahnya Melly dan langsung memberikannya kepada Melly. Melly menangis haru saat membacanya. Isi buku harian itu menceritakan kalau mamahnya Melly merasa bersalah dan kasihan melihat Melly yang dari kecil tidak mempunyai sosok seorang ayah. Dan mamahnya pun tidak bisa menjelaskan apapun dan bungkam tentang papahnya. Karena menurutnya dia tidak yakin kalau papahnya akan mengunjungi Melly dan mamahnya. Kalimat-kalimat itu membuat Melly menangis keras. Suatu ketika Melly dan Rio pergi bersama, Rio ternyata memiliki perasaan terhadap Melly. Rio pun mengungkapkan perasaannya itu. Ternyata Melly pun memiliki perasaan yang sama. Tetapi mereka berdua ingin merahasiakan hubungan mereka dari om Wira dan Tante Puspa (mamah dari Rio). Melly pun meminta permohonan lagi yang kedua pada bintang jatuh agar hubungan mereka dapat dirahasiakan dari om Wira dan Tante Puspa. Mereka ingin menunjukkan bahwa keseriusan mereka tidak akan membuat keduanya menelantarkan sekolah. Meski permohonan Melly yang pertama tidak terwujud, Melly berharap bahwa permohonannya yang kedua itu dapat terwujud. 

-fid-